Blogger templates

 photo aaa-1.gif

Rabu, 07 Agustus 2013

Lokakarya Pengukuran Kinerja Pegawai di Lingkungan Pemkab Tasikmalaya




Kab.Tasik, HUMAS
Bupati Tasikmalaya UU Ruzhanul Ulum yang diwakili Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Tasikmalaya H. Atik Sobari, SH, MH., membuka secara resmi Lokakarya Pengukuran Kinerja Pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang dilaksanakan selama 3 hari (6 s/d 8 Mei 2013), di tandai dengan pengalungan tanda peserta kepada 2 orang perwakilan yaitu Dedi Sumiardi, S.IP, M.Si ( Dinas Kesehatan ) dan Utami Mufliha (Bagian Organisasi Setda), Senin (06/05/2013) bertempat di Hotel Dewi Asri Kecamatan Singaparna.
                Lokakarya Pengukuran Kinerja Pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bekerjasama dengan Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur I Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Bandung (PKP2A I LAN RI), dihadiri Kepala Bidang Kajian Kinerja Kelembagaan dan Sumber Daya Aparatur (KKK SDA) Baban Sobandi, SE, M.Si., beserta jajarannya, Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya, para Kepala SKPD dilingkup Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.
                Pada kesempatan tersebut sambutan Bupati Tasikmalaya yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Tasikmalaya H. Atik Sobari, SH, MH., antara lain mengatakan, menyongsong diberlakukannya sistem penilaian prestasi kerja aparatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011, mulai Tahun 2014 yang akan datang, Pemerintah akan menerapkan metode baru dalam Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil. Penilaian kinerja menduduki tempat yang vital dalam sebuah proses pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi, parameter penilaian yang digunakan dalam DP3 (Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) yang orientasinya lebih ditekankan pada aspek kepribadian dan perilaku, sedangkan sistem penilaian yang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 lebih menekankan pada Penilaian Kinerja. Seiring dengan bergulirnya roda reformasi birokrasi dimana salah satu programnya adalah Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur, maka di tingkat Makro (Nasional) diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 ini untuk menyempurnakan sistem penilaian kinerja aparatur PNS.
                Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011, diharapkan aparatur dilingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya khususnya, untuk semakin meningkatkan kinerja dan siap menghadapi penilaian baru, dikarenakan Penilaian Pegawai Negeri Sipil nanti berdasarkan program kerja masing-masing pegawai setiap tahunnya. Penilaian ini bertujuan untuk mewujudkan pegawai yang professional dalam mendukung percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi, agar pelaksanaan penilaian prestasi kerja berjalan efektif dilingkungan instansi masing-masing.
                Pada kesempatan yang sama Kepala Bidang Kajian Kinerja Kelembagaan dan Sumber Daya Aparatur (KKK SDA) Baban Sobandi, SE, M.Si., mengatakan, kegiatan seperti ini sangat penting seiring dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan reformasi birokrasi yang tentu banyak hal yang harus kita benahi bersama dan itu merupakan tugas kita bersama termasuk didalamnya adalah pembenahan manajemen kepegawaian, Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil, meskipun keluar tahun 2011 sampai sekarang belum di implementasikan, baru tahun 2014 akan di implementasikan, ini yang mendasari kenapa substansi untuk kegiatan ini di Kabupaten Tasikmalaya fokusnya kepada Penilaian Prestasi Kerja Pegawai seiring dengan keluarnya Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara (PERKA BKN) Nomor 1 Tahun 2013, terlepas dari itu semua lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali dan memang sebagian besar daerah belum menerapkan ini, kalaupun ada yang sudah menerapkan, mereka menerapkan formula Penilaian Prestasi Kerja Pegawai yang dibuat sendiri sebelum keluar PERKA BKN, kita akan melakukan sistem penilaian prestasi kinerja pegawai sesuai PERKA BKN Nomor 1 Tahun 2013 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 46 Tahun 2011.       
                Pada kesempatan itu pula Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Latihan Daerah Kabupaten Tasikmalaya Ahmad Muksin, SH, MH., mengatakan, tujuan dan manfaat lokakarya ini untuk menambah pengetahuan dan wawasan para peserta dalam pengukuran kinerja pegawai berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil. Lokakarya ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari perwakilan dari tiap OPD dilingkup Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. (E-75/redi.m/lp/humaskab)***

Bupati Tasik Kini Punya Jejaring Sosial Twitter




Kab.Tasik, HUMAS
Bupati Tasikmalaya H.Uu Ruzhanul Ulum SE melaunching jejaring sosial Twitter Bupati Tasikmalaya @KangUU_tasik1 pada Senin kemarin bertempat Aula Wirdadaha Bappeda Kabupaten Tasikmalaya.. Gagasan yang berasal dari H.Uu Ruzhanul Ulum selaku Bupati Tasikmalaya untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat melalui berbagai media diantaranya Twitter. ’Perlunya peningkatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, salah satunya penggunaan media sosial. “ujarnya
 H.Uu Ruzhanul Ulum menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk menyampaikan program yang ada, selain itu pemerintah juga harus mampu mendengarkan aspirasi dari masyarakat untuk kemajuan Kabupaten Tasikmalaya. Twitter @KangUU_tasik1 ini diharapkan menjadi media untuk masyarakat agar dapat menyampaikan langsung aspirasinya.
Disamping pelaksanaan Launching Twitter Bupati Tasikmalaya, pada acara yang sama dilaksanakan peresmian Gedung LPSE dan peninjauan Data Center yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam penerapan e-Governemnt menuju pemerintahan yang efektif dan efisien melalui penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Ke depan diharapkan seluruh SKPD dalam korepondensi antar institusi baik Surat Dinas, Laporan dll cukup dengan menggunakan email resmi.
Gedung LPSE Kabupaten Tasikmalaya yang semula beralamat di Jl.Otto Iskandardinata Tasikmalaya kini pindah ke Kompleks Perkantoran Jl.ByPass Bojong Koneng Tasikmalaya yang dikelola oleh Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Tasikmalaya. Sebagai salah satu komitmen Bupati Tasikmalaya dalam mendorong reformasi birokrasi salah satunya adalah menjadi pionner di Priangan Timur yang memiliki LPSE System Provider (Server sendiri), selain itu LPSE Kabupaten Tasikmalaya beberapa kali mendapatkan penghargaan dari Propinsi Jawa Barat yang melakukan pelelangan elektronik dengan paket terbanyak  se-Jawa Barat.(humas)***

Masjid Agung Manonjaya Yang Bersejarah



MESJID Agung Manonjaya terletak di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Adapun batas-batasnya sebelah utara Jalan Tangsi, sebelah selatan jalan Kauman dan Markas Komando Militer 0612 Manonjaya, sebelah timur Sekolah Dasar Negeri II Manonjaya dan alun-alun. Keadaan tanah di daerah ini mengandung pasir dan merupakan tanah datar.
Latar Sejarah
Masjid Agung Manonjaya telah ada pada masa pemerintahan R.T. Wiradadaha VIII tahun 1814­1835, tetapi bentuknya tidak seperti sekarang. Pada tahun 1837, masa Bupati R.T. Danuningrat, masjid diperbesar dan dilengkapi dengan pawestren. Walaupun masjid telah diperbesar, tetapi masih belum cukup untuk menampung para jamaah. Maka tahun 1889 pada masa pemerintahan R.T.A. Wiraadiningrat masjid diperbesar lagi ke timur guna membangun dua buah menara dan serambi timur.
Arsitektur masjid merupakan perpaduan unsur/gaya tradisional dan kolonial. Unsur kolanial dapat dilihat pada tiang sokoguru, jendela, dinding yang tebal dan diplester, pintu, serta menara dengan pilaster di setiap sudut dinding luar. Sedangkan unsur tradisional antara lain terlihat pada denah bujur sangkar, fondasi masif, serambi, dan atap tumpang.
Pada tahun 1974 dilaksanakan pemugaran masjid oleh swadaya masyarakat setempat dengan kegiatan perbaikan kerangka atap yang rusak dan bocor. Tahun 1977 untuk kedua kalinya dilakukan perbaikan akibat gempa bumi, sehingga terjadi peretakan dinding. Kegiatan ini dibiayai Mexiteri Dalam Negeri. Sebelas tahun kemudian, tahun 1988 untuk ketiga kalinya diadakan pemugaran kembali oleh Direktorat Perlindungan clan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Terakhir masjid ini dipugar oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Barat pada tahun 1991/1992 dengan kegiatan perbaikan atap, penampil serambi timur, teras dan lantai bangunan utama dan serambi, pintu, jendela, dan plesteran tiang-tiang serambi.
Deskripsi Bangunan
Masjid Agung Manonjaya terletak pada tanah seluas 6159 m2 , dikelilingi oleh pagar tembok. Pintu masuk halaman masjid terdapat di timur, utara, dan selatan dengan arah hadap masjid ke timur. Masjid Agung Manonjaya dibangun pada ketinggian ± 1 m dari permukaan tanah dengan pondasi massif dan denahnya berbentuk bujur sangkar dengan penampil di bagian barat. Lantai dari tegel merah sedangkan lantai di depan mihrab dilapisi dengan karpet berwarna hijau. Bangunan dikelilingi dinding di keempat sisinya. Pintu masuk ke bangunan induk terdapat di dinding timur, utara dan selatan. Pada bagian timur terdapat penampil serambi yang menghubungkan koridor serambi . Penampil serambi merupakan jalan menuju ruang utama. Bangunan masjid terdiri atas ruang utama, serambi, pewastren, gudang, dan perpustakaan.
Ruang Utama
Denah ruang utama berbentuk persegi panjang dengan ukuran 22,8 x 16,7 m dan dibatasi oleh dinding. Pada dinding terdapat pintu di sisi timur, utara, dan selatan. Pintu berjumlah tiga buah, masing-masing terdiri atas dua daun pintu. Dinding timur terdapat pintu utama dan merupakan batas dengan serambi timur.
Pintu terbuat dari kayu memiliki dua daun pintu dan ternagi atas dan bawah. Bagian atas atau dari kaca buram dan bagian bawah merupakan hiasan ukiran bidang persegi panjang. Ukuran pintu tingginya 3,15 m sedangkan lebarnya 1,15 m. Bagian dalam pintu dipasang gorden. Pintu utama dibuka pada hari terytentu saja yaitu hari Jumat dan Hari raya idul fitri.
Di kiri kanan pintu terdapat jendela berbentuk persegi panjang dengan dua daun jendela tanpa hiasan.
Jendela merupakan jendela rangkap yang bagian dalam nya terbuat dari kaca dengan ukuruan 1,82 x 0,81 m sedangkan bagian luar dari bilah-bilah papan yang dipasang secara vertical.
Dinding selatan membatasi ruang pawestren dan gudang. Pada dinding terdapat tiga buah pintu terdiri dari satu pintu yang menghubungkan selasar luar pawestren dan dua buah lagi tanpa daun pintu serta berbentuk lengkungan pada bagian atasnya. Pintu ini merupakan pintu menuju pawestren. Dinding utara pembatas ruang perpustakaan dan serambi utara. Pintu dinding ada dua buah. Di kiri-kanan pintu yang berhubungan dengan serambi terdapat dua buah jendela. Dinding barat terdapat mihrab dan kiri – kanannya terdapat jendela serta sebuah lagi di barat mihrab. Dalam ruang utama terdapat tiang-tiang mihrab, dan mimbar.
-          Tiang
Pada ruang utama terdapat 10 buah tiang terdiri dari empat tiang sokoguru, empat tiang penyangga atap di antara tiang sokoguru, dan dua tiang lainnya terletak di depan mihrab. Tiang sokoguru berbentuk segi delapan, tingginya 4 m, garis tengahnya 1 m, terbuat dari tembok dan berfungsi sebagai penopang atap. Tiang tersebut berdiri di atas lantai ruangan tanpa lapik, badannya polos dan  pada kepala tiang terdapat pelipit setengah lingkaran dan pelipit penyangga. Enam buah tiang lainnya mempunyai ketinggian 4 m dan garis tengah 0,70 m, berdiri di atas lapik berbentuk persegi dan bagian atasnya terdapat hiasan pelipit setengah lingkaran dan pelipit genta.
-          Mihrab
Mihrab terletak di barat laut masjid berbentuk ruangan persegi panjang dengan ukuran 6,30 x 4,30 m.  Tinggi mihrab 4 m. Bagian depan mihrab mihrab terdapat tiga buah pintu persegi panjang berukuran 2,60 x 1,28 m (kiri, tengah, dan kanan) tanpa daun pintu. Pintu kiri dipergunakan untuk imam memimpin shalat, sebelah kanan merupakan tempat muadzin mengumandangkan adzan, dan pintu tengah tempat letak mimbar.
Pada bgain atas pintu terdapat lengkungan setengah linhkaran berupa tulisan Arab (kaligrafi) yang menyebut “Allah”. Bagian atas atap mihrab membentuk atap limasan dengan mustaka berbentuk kubah.
-          Mimbar
Mimbar masjid Agung Manonjaya terletak didalam mihrab dan berdiri di atas lantai mihrab tersebut dengan pondasi setinggi 1 m. Denahnya berbentuk segi enam dengan lantai dari tegal merah. Untuk naik ke lantai dipakai tangga dengan lima anak tangga. Di atas pipi tangga terdapat dua buah tiang dengan hiasan mata tombak di ujungnya.
Pada tiap sudut bidang segi enam terdapat empat buah tiang yang berdiri di atas pagar mimbar dari kayu. Tiang-tiang tersebut bagian atasnya dihubungkan dengan palang kayu mendatar sehingga merupakan atap terbuka. Bagian atas palang bagian depan diberi hiasan sulur dan warna keemasan. Hiasan lain yang terdapat pada mimbar berupa pelipit.
Serambi
Serambi yang terdapat pada Masjid agung Manonjaya letaknya di sisi utara dan timur. Kedua serambi tersebut selasarnya berlapis tegel merah dan denahnya persegi panjang. Serambi utara berukuran 19,90 x 3,80 m dan untuk masuk ke serambi melalui tangga dengan lima anak tangga. Serambi  timur terdapat tembok pagar setinggi 0,60 m yang diatasnya berdiri tiang-tiang penyangga atap. Pada sudut serambi ini terdapat tiga buah tiang sudut berdiri pada lapik diatas pagar tembok. Serambi mempunyai penampil, berdenah persegi panjang dengan ukuran 12,60 x 9,40 m. Penampil merupakan bangunan terbuka dengan atap tumpang. Pada pagar penampil terdapat enam buah tiang ganda berdiri di atas pagar tembok penampil serambi timur. Pada badan tiang tersapat hiasan lekukan sepanjang tiang dan bagian atas terdapat pelipit setengah lingkaran dan pelipit sisi genta. Bagian puncak atap mempunyai mustaka berbentuk bunga teratai yang sedang mekar dengan kelopaknya. Atap penampil ini dipotong oleh empat buah tiang di atas tembok penampil. Di antara tingkatan atap terdapat ruangan yang dilengkapi jendela kaca.
Pawestren
Pawestren adalah ruangan shalat khunsus wanita. Pawestren ini berada di sebelah selatan ruang utama dan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11,40 x 3,80 m. Lantainya dilapisi dengan tegel merah berukuran 30 x 30 m dengan tinggi dinding 4 m dari lantai. Dinding bagian barat berbatasan langsung dengan gudang.
Pintu masuk ke pawestren ada tiga buah yaitu di bagian utara (dinding selatan ruang utama) dan sebuah pada dinding timur pawestren. Pada dinding timur terdapat dua buah jendela dan merupakan jendela rangkap. Bentuk jendela sama seperti jendela ruang utama. Dalam ruangan terdapat tangga kayu untuk naik kea tap. Langit-langit pawestren terbuat dari tripleks dan dicat warna coklat.
Gudang
Letak ruang gudang di sudut barat pawestren dengan denah berbentuk bujur sangkar. Dinding gudang tingginya 4 m dan pintu masuk di sebelah timur. Pada dinding selatan terdapat lubang angin berbentuk persegi panjang dengan bilah-bilah papan yang disusun tegak dan pada bagian dalamnya diberi kawat
Perpustakaan
Ruang perpustakaan merupakan ruang baru yang didirak pada tahun 1991. Pada mulanya ruangan ini merupakan ktempat menyimpan keranda mayat. Letaknya di uatara ruang utama dan berukuran 3,85 x 2,95 m. Tiggi dindingnya 4 m, dan pada dinding timur terdapat pintu masuk yang menghubungkan serambi utara. Sedang dinding selatan juga terdapat pintu yang menghubungkan ruang utama. Di dinding utara hanya terdapat sebuah jendela yang berangkap dua.
Atap
Atap Masjid Manonjaya merupakan atap tumpang bersusun tiga dan diantara tingkatan tersebut terdapat jendela kaca. Atap disangga oleh tiang-tiang yang terdapat pada bangunan dan mempergunakan genteng berwarna hijau. Pada bagian ujung atap terdapat lisplank dengan hiasan pinggir awan. Puncak atap dihiasi mustaka berupa bunga teratai dengan kelopaknya.
Menara
Masjid Agung Manonjaya mempunyai dua buah menara yang terletak di depan serambi timur sebelah utara dan selatan. Antara serambi timur dan menara dihubungkan dengan penampil serambi. Menara terbagi atas kaki, badan, atap, dan koridor menara. Tinggi pondasi dari permukaan tanah 1 m berfungsi sebagai dasar bangunan, berbentuk segi delapan. Lantai menara dari tegel merah dan bentuknya sama seperti fondasi. Menara terbagi atas dua tingkat. Pada lantai pertama terdapat pintu masuk ke menara, berukuran 2,26 × 1,20 m dan berdaun pintu dua. Letak pintu menara utara dan selatan saling berhadapan serta dihubungkan dengan koridor. Menara mempunyai 12 buah jendela, masing-masing menara enam buah. Bentuknya persegi panjang berukuran 1,80 × 0,80 m. Hiasan terdapat pada bagian atas jendela berupa atap segi tiga, sedangkan pada sisinya merupakan pelipit. Bagian dalam menara terdapat ruangan yang dipergunakan untuk kantor akad nikah dan tempat wanita mendengarkan khotbah. Untuk naik ke lantai dua dipergunakan tangga kayu. Bentuk atap menara makin ke atas makin meruncing seperti kerucut dan di atasnya terdapat mustika berbentuk payung tertutup dengan bulan bintang. Atap menara dari genteng berwarna hijau. Koridor menara ada di antara menara utara dan selatan yang menghubungkan kedua menara tersebut. Denahnya persegi panjang dengan ukuran panjang 24,40 dan lebar 3,30 m. Lantai dari tegel merah dan berpagar tembok. Pada bagian atas tembok timur terdapat tiang ganda dari semen dan di tengah tembok ada tangga menuju ke bangunan induk dengan lima anak tangga. Koridor tersebut mempunyai atap berbentuk limasan dari genteng hijau. Pada atap sebelah timur terdapat lagi atap segi tiga dari tembok dan bagian muka segi tiga dilapisi kayu berbentuk segi tiga pula. Hiasan terdapat pada permukaan tembok atap sebelah timur berupa bunga teratai dan tulisan angka tahun pendirian menara.     
Perlengakapan Masjid
            Perlengkapan masjid yang terdapat pada Masjid Agung Manonjaya adalah bedug dan kentongan. Letak bedug dan kentongan di sudut sebelah selatan serambi timur. Bedug dari kayu silinder dan dilubangi, garis tengahnya I m. Kanan kiri lubang tersebut ditutup dengan kulit kambing. Bedug berada di atas kaki meja dari triplek, sedangkan kentongan berada pada penyangga kayu berkuda. Kedua peralatan tersebut masih baru.(Sumber : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.)***

Objek Wisata Ziarah Pamijahan Yang Terkenal





SYEIKH  Haji Abdul Muhyi adalah salah seorang keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 1071 H/1660 M dan wafat di Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1151 H/1738 M. Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya daripada ayahnya sendiri dan kemudian daripada para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Aceh untuk melanjutkan pendidikannya dan belajar dengan Syekh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Lebih kurang enam tahun lamanya Syeikh Abdul Muhyi belajar dengan ulama besar Aceh itu, iaitu dalam lingkungan tahun 1090 H/1679 M-1096 H/1684 M.
          Tahun pembelajaran Syeikh Abdul Muhyi di Aceh kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu, kita dapat membandingkan dengan tahun pembelajaran Syeikh Burhanuddin Ulakan yang dipercayai termasuk seperguruan dengannya.
          Syeikh Burhanuddin Ulakan yang berasal dari Minangkabau itu belajar kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri bermula pada 1032 H/1622 M, tetapi tahun ini tetap masih dipertikaikan kerana riwayat yang lain menyebut bahawa ulama yang berasal dari Minangkabau itu dilahirkan pada tahun 1066 H/1655 M.
          Maka kita perlu membandingkan dengan tahun kelahiran Syeikh Yusuf Tajul Khalwati dari tanah Bugis-Makasar, iaitu 1036 H/1626 M, selanjutnya keluar dari negerinya menuju ke Banten 1054 H/1644 M, seterusnya ke Aceh belajar kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri juga. Selain itu, dapat juga kita bandingkan dengan tahun kehidupan Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu, iaitu tahun 1060 H/1650 M hingga tahun 1092 H/1681 M; Semua ulama yang tersebut dikatakan adalah murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Banyak pula ulama bercerita bahawa semua mereka termasuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah bersahabat.
          Dengan perbandingan-perbandingan tahun tersebut, dapat kita ketahui bahawa tahun-tahun itu masih bersimpangsiur, masih sukar untuk ditahqiqkan. Yang sahih dan tahqiq hanyalah mereka adalah sebagai murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh. Yang lebih menarik lagi, bahawa semua mereka, kecuali Syeikh Burhanuddin Ulakan, diriwayatkan sempat belajar ke luar negeri ke Mekah, Madinah, Baghdad dan lain-lain. Termasuk Syeikh Abdul Muhyi diriwayatkan adalah murid kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani di Mekah dan Syeikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah, yang kedua-dua ulama itu adalah ulama ahli syariat dan haqiqat yang paling terkenal pada zamannya.
          Setelah Syeikh Abdul Muhyi lama belajar di Mekah dan Madinah, beliau melanjutkan pelajarannya ke Baghdad. Tidak jelas berapa lama beliau tinggal di Baghdad, tetapi diriwayatkan ketika beliau berada di Baghdad hampir setiap hari beliau menziarahi makam Syeikh Abdul Qadir al-Jilani yang sangat dikaguminya.
          Dalam percakapan masyarakat, Syeikh Abdul Muhyi adalah termasuk keturunan/zuriat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Wali Allah, Quthbul Ghauts, yang sangat terkenal itu. Riwayat yang lain diceritakan bahawa Syeikh Abdul Muhyi ke Baghdad dan Mekah adalah mengikuti rombongan gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Dari Baghdad beliau kembali lagi ke Mekah dan selanjutnya kembali ke Jawa dan berkahwin di Ampel.
AKTIVITI
          Setelah selesai perkahwinan di Ampel, Syeikh Abdul Muhyi bersama isteri dan orang tuanya berpindah ke Darma, dalam daerah Kuningan, Jawa Barat. Selama lebih kurang tujuh tahun (1678 M-1685 M) menetap di daerah itu mendidik masyarakat dengan ajaran agama Islam. Kemudian berpindah pula ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Di daerah itu, beliau hanya menetap lebih kurang setahun saja (1685-1686), walau bagaimanapun beliau berhasil menyebarkan agama Islam kepada penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu.
          Pada 1686 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari selepas pemakaman ayahnya, Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke daerah Batuwangi. Beliau berpindah pula ke tempat yang berhampiran dengan Batuwangi iaitu ke Lebaksiuh. Selama lebih kurang empat tahun di Lebaksiuh (1686 M-1690 M), Syeikh Abdul Muhyi berhasil mengislamkan penduduk yang masih beragama Hindu ketika itu.
          Menurut cerita, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama kerana Syeikh Abdul Muhyi adalah seorang Wali Allah yang mempunyai karamah, yang dapat mengalahkan bajingan-bajingan pengamal “ilmu hitam” atau “ilmu sihir”. Di sanalah Syeikh Abdul Muhyi mendirikan masjid, tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bahagian selatan Jawa Barat.
          Kemudian Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke satu desa, iaitu Gua Safar Wadi di Karang Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Perpindahannya ke Karang Pamijahan itu, menurut riwayat bahawa beliau diperintahkan oleh para Wali Allah dan perjumpaan secara rohaniah kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, supaya beliau mencari suatu gua untuk tempat berkhalwat atau bersuluk di Jawa Barat. Cerita mengenai ini banyak dibungai dengan berbagai-bagai dongeng yang merupakan kepercayaan masyarakat terutama golongan sufi yang awam.
          Bagi mengimbangi cerita yang bercorak mitos itu, ada riwayat yang bercorak sejarah, bahawa Syeikh Abdul Muhyi diundang oleh Bupati Sukapura, Wiradadaha IV, R. Subamanggala untuk memerangi dan membasmi ajaran-ajaran sihir yang sesat Batara Karang di Karang Pamijahan dan di gua Safar Wadi itu. Di kedua-dua tempat tersebut adalah tempat orang-orang melakukan pertapaan kerana mengamalkan ilmu-ilmu sihirnya.
          Oleh sebab Syeikh Abdul Muhyi memang hebat, beliau pula dianggap sebagai seorang Wali Allah, maka ajaran-ajaran sihir yang sesat itu dalam waktu yang singkat sekali dapat dihapuskannya. Penjahat-penjahat yang senantiasa mengamalkan ilmu sihir untuk kepentingan rompakan, penggarongan dan kejahatan-kejahatan lainnya berubah menjadi manusia yang bertaubat pada Allah, setelah diberikan bimbingan ajaran Islam yang suci oleh Syeikh Abdul Muhyi, Wali Allah yang tersebut itu.
          Gua Safar Wadi pula bertukar menjadi tempat orang melakukan ibadat terutama mengamalkan zikir, tasbih, tahmid, selawat, tilawah al-Quran dan lain-lain sejenisnya. Maka terkenallah tempat itu sebagai tempat orang melakukan khalwat atau suluk yang diasaskan oleh ulama yang terkenal itu.
          Disingkatkan saja kisahnya, bahawa kita patut mengakui dan menghargai jasa Syeikh Abdul Muhyi yang telah berhasil menyebarkan Islam di seluruh Jawa Barat itu. Bukti bahawa beliau sangat besar pengaruhnya, sebagai contoh Bupati Wiradadaha IV, iaitu Raden Subamanggala pernah berwasiat bahawa jika beliau meninggal dunia supaya beliau dikuburkan di sisi gurunya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu. Tempat tersebut sekarang lebih dikenali dengan nama Dalem Pamijahan.
          Murid-murid yang tertentu, Syeikh Abdul Muhyi mentawajjuhkannya menurut metod atau kaedah Thariqat Syathariyah yang salasilahnya diterima daripada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Walaupun tarekat yang sama diterimanya juga kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi, iaitu guru juga kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, namun Syeikh Abdul Muhyi memulakan salasilahnya tetap menyebut Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Hal demikian kerana tarekat yang tersebut memang terlebih dulu diterimanya daripada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al Fansuri.
          Setelah beliau ke Mekah, diterimanya tawajjuh lagi daripada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi itu. Maka berkembanglah Thariqat Syathariyah yang berasal daripada penyebaran Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu di tempat-tempat yang tersebut, melalui bai’ah, tawajjuh, dan tarbiyah ruhaniyah yang dilakukan oleh Syeikh Abdul Muhyi muridnya itu.
KETURUNAN
          Menurut riwayat, Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan mempunyai empat isteri. Hasil erkahwinannya itu, beliau memperoleh seramai 18 anak. Menerusi Raden Ayu Bakta, memperoleh anak bernama Kiyai Haji Muhyiddin atau digelar Dalem Bojong. Namun menurut Aliefya M. Santrie, dalam buku Warisan Intelektual Islam Indonesia, setelah beliau pulang dari Pamijahan beliau menemukan satu artikel dalam majalah Poesaka Soenda yang menunjukkan bahawa tidak identiknya Kiyai Haji Muhyiddin dengan Dalem Bojong.
          Kedua-duanya memang anak Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, tetapi Kiyai Haji Muhyiddin personaliti tersendiri dan Dalem Bojong personaliti yang lain pula. Menurutnya makam Kiyai Haji Muhyiddin dalam majalah itu disebut namanya yang lain, iaitu Bagus Muhyiddin Ajidin, terletak di sebelah selatan makam Syeikh Abdul Muhyi, sedang makam Dalem Bojong terletak di sebelah timur.
          Barangkali keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu sangat ramai yang menjadi ulama di daerah Jawa Barat, sewaktu penulis berulang-alik di Pondok Gentur, Cianjur (1986 M-1987 M) difahamkan bahawa Kiyai Haji Aang Nuh di pondok pesantren adalah termasuk keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Penulis sendiri menerima beberapa amalan wirid dari kiyai itu dan ternyata memang terdapat hadiah al-Fatihah untuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan dan beberapa ulama lainnya untuk memulakan amalan.
          Dari Kiyai Haji Aang Nuh juga, penulis mendengar cerita-cerita yang menarik mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Sampai sekarang Pondok pesantren Gentur dikunjungi mereka yang mempunyai permasalahan yang sukar diselesaikan dari seluruh Indonesia, tempat itu sentiasa ramai kerana doa kiyai itu dianggap mustajab.
          Di Pondok-pesantren Gentur itu tidak mengajar disiplin ilmu sebagai pondok-pesantren lainnya, di situ hanya mengajar amalan-amalan wirid terutama selawat atas Nabi Muhammad. Penulis sempat mewawancara pengunjungnya, menurut mereka wirid atau amalan yang diterima dari kiyai itu terbukti mustajab.
Situs Pamijahan merupakan sebuah kompleks keramat yang dikarakterisasikan oleh fungsi bentang alam yang direkayasa dan difungsikan sebagai tempat-tempat suci, baik berupa gua, mata air maupun makam seorang tokoh penyebar Islam. Di bawah ini akan diuraikan unsur-unsur yang membentuk kekeramatan di Pamijahan. (berbagai sumber)***

SEKILAS SEJARAH KABUPATEN TASIKMALAYA


CIKAL  bakal Kabupaten Tasikmalaya berasal dari Umbul Surakerta dengan ibukotanya Dayeuh Tengah. Daerah ini sekarang menjadi nama sebuah desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Salopa, kira-kira 5 km sebelah Timur Kecamatan Sukaraja. Pada waktu itu, penguasa Negara Surakerta bernama Sareupeun Cibuniagung. Ia memiliki seorang puteri tunggal yang bernama Nyai Punyai Agung (Ageng). Nyai Punyai Agung menikah dengan Entol Wiraha yang menggantikannya menjadi penguasa Surakerta. Dari perkawinan tersebut lahirlah Wirawangsa, yang berkuasa di Surakerta menggantikan ayahnya.
Pada saat Wirawangsa berkuasa, Surakerta statusnya menjadi umbul. Umbul Surakerta termasuk  wilayah Priangan yang dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata.Ketika Dipati Ukur diperintah Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso, Dipati Ukur membawa sembilan umbul, di antaranya, Umbul Surakerta, Wirawangsa. Tetapi Dipati Ukur gagal dalam penyerangan itu. Ia bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di Bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul. Tindakannya dianggap oleh Mataram sebagai pemberontakan sehingga Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram.
            Karena tindakan Dipati Ukur itu dianggap membahayakan, Sultan Agung memerintahkan untuk menangkapnya hidup atau mati dengan suatu perjanjian, bahwa barangsiapa yang berhasil menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah. Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede, dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur, tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu.
            Dipati Ukur tertangkap di daerah Cengkareng sekarang oleh tiga umbul Priangan Timur, kemudian dibawa ke Mataram, dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati. Ketiga umbul yang ikut menangkap Dipati Ukur adalah Umbul Surakerta Ki Wirawangsa, Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala, dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita. Ketiga umbul tersebut juga menangkap delapan umbul lainnya yang biluk (setia) kepada Dipati Ukur. Atas jasanya, ketiga umbul tersebut diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. Ki Wirawangsa diangkat menjadi mantri agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, Ki Astamanggala diangkat menjadi mantri agung Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangun-angun, dan Ki Somahita menjadi mantri agung Parakanmuncang digelari Tumenggung Tanubaya.
            Setelah diangkat menjadi mantri agung Sukapura, kota kabupaten pun dipindahkan dari Dayeuh Tengah di Sukakerta ke Leuwi Loa (wilayah desa Sukapura) daerah Sukaraja sekarang, terletak di tepi sungai Ciwulan. Oleh karena ibukota pindah ke Sukapura, nama kabupaten pun disebut Kabupaten Sukapura. Perubahan nama Leuwi Loa menjadi Sukapura berdasarkan alasan karena di Leuwi Loa didirikan pura yang bermakna ‘kraton’ dan suka bermakna ‘asal’ atau ‘tiang’. Jadi, sukapura bermakna jejernya karaton karena di tempat inilah berdirinya bupati Sukapura yang pertama.
            Raden Tumenggung Wiradadaha (Wiradadaha I) yang berjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat, dan dimakamkan di Pasir Baganjing sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Baganjing.Pengganti Wiradadaha I adalah putranya yang ketiga yang bernama Raden Jayamanggala dengan gelar raden Tumenggung Wiradadaha II. Namun, Wiradadaha II tidak lama berkuasa karena pada tahun pengangkatannya sebagai tumenggung meninggal dunia karena dihukum mati. Keluarganya hanya mendapatkan tambela (keranda) yang berisi mayat Wiradadaha II. Oleh karenaitu, Wiradadaha II terkenal dengan julukan Dalem Tambela.
Setelah meninggal dunia, Raden Wiradadaha II digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Anggadipa I, putra keempat Wiradadaha I. Setelah menjadi bupati, Raden Anggadipa bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III. Dia terkenal sebagai bupati Sukapura terkaya dan memiliki anak sebanyak 62 orang hingga ia dikenal dengan Dalem Sawidak.
            Setelah meninggal dunia, Wiradadaha III digantikan oleh anaknya Raden Subangmanggala dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha IV. Raden Wiradadaha IV meninggal dunia dan dimakamkan di Pamijahan dekat gurunya Syeh Abdul Muhyi dan dikenal dengan sebutan Dalem Pamijahan.
            Raden Wiradadaha IV digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Raden Secapati. Raden Secapati adalah cucu Dalem Tamela. Setelah diangkat menjadi bupati, dia menggunakan nama Raden Tumenggung Wiradadaha V, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Dalem Tumenggung Secapati.
            Setelah wafat, Wiradadaha V digantikan oleh putranya yang bernama raden Jayangadireja dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VI. Ia menikahi putri bupati Parakanmuncang. Karena sering bertolak belakang dengan pemerintah Kolonial, Wiradadaha VI mengundurkan diri, dan digantikan oleh anaknya Raden Jayamanggala II dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII atau Raden Adipati Wiratanubaya. Karena dimakamkan di Pasirtando, beliau terkenal dengan sebutan Dalem Pasirtando.
            Kemudian pengganti Wiradadaha VII adalah putranya yang kelima Raden demang Anggadipa dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII. Ia terkenal dengan sebutanh Dalem Sepuh. Ketika ia menolak menanam nila, Wiraradaha VIII dipecat, Sukapura dialihkan ke Kabupaten Limbangan.
 Kabupaten Sukapura didirikan kembali dengan bupatinya turunan bupati Sumedang, yakni raden Tumenggung Surialaga, yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Talun. Dua tahun kemudian, Dalem Talun mengundurkan diri, kabupaten Sukapura diserahkan kembali ke bupati Limbangan. Namun, selanjutnya dikembalikan lagi ke Wiradadaha VIII dari bupati Limbangan, kecuali daerah Suci dan Panembong.
            Pada masa kekuasaan Widadaha VIII, Sukapura memiliki wilayah yang sangat luas. Wilayahnya meliputi sebagian dari Sumedang: Malangbong, Ciawi, Indihiang, Singaparna, dan Tasikmalaya; sebagian dari Galuh: Pasirpanjang, Banjar, Kawasen, Parigi, Cijulang, Mandala, Cikembulan, dan Kalipucang. Wilayah Sukapura asalnya hanya distrik Mangunreja, Panyeredan, Taraju, Sukaraja, Parung, Karang, Cikajang, batuwangi, Nagara (Pameungpeuk), tanah yang luas ini disebut Tanah Galunggung.
            Karena terlalu luas, Kabupaten Sukapura dibagi tiga bagian, yakni afdeeling Sukapura Kolot, Sukapura, dan Tasikmalaya. Sukapura Kolot dengan ibukota Mangunreja meliputi dua afdeling, yakni afdeeling Mangunreja (Panyeredan, Karang, Sukaraja, Taraju, Parung), dan afdeeling Cikajang (Batuwangi, Kandangwesi, Nagara, dan Selacau). Sukapura meliputi dua afdeeling, yakni afdeeling Manonjaya (Pasirpanjang, Banjar, Kawasen) dan afdeeling Parigi (Parigi, Cijulang, Mandala, Cikembulan, dan Kalipucang). Afdeeling Tasikmalaya Tasikmalaya mencakup Ciawi, Indihiang, dan Malangbong.
            Setelah memiliki wilayah yang luas, ibukota Sukapura di Sukaraja dipindahkan ke Manonjaya. Pada waktu itu, Wiradadaha VIII wafat dan dimakamkan di Tanjung Malaya. Kemudian digantikan oleh adiknya R.T. Danuningrat dengan gelar R.T. Wiradadaha IX, yang membangun Kota Manonjaya. Setelah wafat, Danuningrat digantikan Raden Rangga Wiradimanggala dengan gelar R.T. Wiratanubaya sebagai bupati Sukapura X.
            Setelah wafat, R.T. Wiratanubaya lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Karena tidak punya anak, Wiratanubaya digantikan oleh Raden Rangga Tanuwangsa dengan gelar raden Wiraadegdaha (bupati Sukapura XI). Kemudian digelari Adipati sehingga namanya menjadi Raden Adipati Wiraadegdaha. Karena diturunkan dari jabatannya, R.A. Wiraadegdaha pindah ke Bogor dan terkenal dengan sebutan Dalem Bogor. Jabatannya digantikan adiknya Raden Demang Danukusumah, patih Manonjaya. Setelah menjadi bupati, namanya menjadi R.T. Wirahadiningrat, Bupati Sukapura XII. Dia pernah diberi gelar adipati, mendapat payung kuning, dan Bintang Oranye Nassau, sehingga mendapat sebutan Dalem Bintang.
            Dalem Bintang wafat. Penggantinya adalah Raden Rangga Wiratanuwangsa, putranya Dalem Bogor. Setelah menjadi bupati, diganti namanya menjadi R.T. Wiraadiningrat, bupatui Sukapura XIII. Pada masa ini, ibukota Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke Tasikmalaya. Dia bupati pertama yang mendapat gelar aria, sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Aria.
Setelah wilayah afdeeling Mangunreja menjadi bawahan Sukapura, dan afdeeling Cikajang menjadi bawahan Kabupaten Limbangan, sedangkan Distrik Malangbong dibagi dua, yakni sebagian bawahan Limbangdan dan sebagian bawahan Sumedang. Sejak itulah, Sukapura berubah nama menjadi Tasikmalaya.
            Pada awalnya daerah yang disebut Sukapura itu bernama Tawang atau Galunggung. Sering juga disebut Tawang-Galunggung. Tawang berarti ‘sawah’ atau ‘tempat yang luas terbuka’. Penyebutan Tasikmalaya muncul untuk pertama kali setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi Tasik ‘danau, laut’ dan malaya dari (ma)layah bermakna ‘ngalayah (bertebaran)’ atau ‘deretan pegunungan di pantai Malabar (India)’. Tasikmalaya mengandung arti ‘keusik ngalayah’, maksudnya banyak pasir di mana-mana.( http://anugrahnoerhadi.wordpress.com)***